CERMI 3 – UR101 – MUHAMAD IKHSAN MUSTOPA

Oke saya muhamad ikhsan mustopa ingin menceritakan apa saja sih yang kita pelajari pada pelajaran agama kali ini and kalian bisa baca di bawah ini ya teman teman.
Islam adalah agama yang selalu memberikan kemudahan kepada umatnya, termasuk dalam hal beribadah. Meski demikian, diperlukan ilmu yang mumpuni agar seseorang dapat beribadah dengan benar sesuai ajaran Islam. Ilmu yang mempelajari terkait hal ini dinamakan fiqih ibadah.

Apa yang di maksud dengan Fiqih Dalam Ibadah ?

Definisi Fiqih Ibadah >> Secara bahasa kata fiqih dapat diartikan al-Ilm, artinya ilmu, dan al-fahm, artinya pemahaman. Jadi fiqih dapat diartikan ilmu yang mendalam.

Secara istilah fiqih adalah ilmu yang menerangkan tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan para mukalaf yang dikeluarkan dari dalil-dalilnya yang terperinci. Mukalaf adalah orang yang layak dibebani dengan kewajiban. Seorang dianggap mukalaf setidaknya ada dua ukuran; pertamaaqil, maksudnya berakal. Cirinya adalah seseorang sudah dapat membedakan antara baik dan buruk, dan antara benar dan salah. Keduabaligh, maksudnya sudah sampai pada ukuran-ukuran biologis. Untuk laki-laki sudah pernah ikhtilam (mimpi basah), sedangkan perempuan sudah haid.

Ibadah berasal dari kata arab ‘ ibadah jamaknya lafadz ‘ ibadat yang berarti pengabdian, penghambatan, ketundukan dan kepatuhan. Dari akar kata yang sama kita kenal dengan istilah ‘abd (hamba, budak) yang menghimpin makna kekurangan, kehinaan dan kecerdasan.

Adapun pendapat lain mengenai ibadah adalah:

التقرب ألى الله بامتثال أوامره واجتنا ب نواهيه والعمل بما أذن به الشا رع وهي عامة وخاصة

Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Juga yang dikatakan ibadah adalah beramal dengan yang diizinkan oleh Syari’ Allah Swt.; karena itu ibadah itu mengandung arti umum dan arti khusus.

 Pengertian Syari’at

Pengertian lain yang mirip dengan fiqih adalah syari’at. Secara bahasa syari’ah artinya jalan (thariqah). Secara istilah adalah segala bentuk hukum baik perintah dan larangan yang terdapat dalam Islam, yang tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadi, secara praktis antara fiqih dan syari’at tidak jauh berbeda. Perbedaannya fiqih jauh lebih teoritik, sementara syariat lebih praktis.

Tujuan diciptakannya syari’at di dalam Islam adalah untuk;

  1. Memelihara agama (hifzud din)
  2. Meliharaan jiwa (hifzun nufus)
  3. Memelihara akal (hifzul aql)
  4. Memelihara keturunan (hifzun nasl)
  5. Memelihara harta (hifzul mal)
  6. Memelihara kehormatan (hifzul irdh)
  7. Mmelihara lingkungan (hifzul bi’ah)

Ibadah menurut para ulama ada 3 yaitu : Ulama Tauhid, Ulama Akhlak HAsbi Ash- Shiddiqie dan Ulama Fiqih.

  • Ulama Tauhid >> Ibadah dapat diartikan sebagai tujuan kehidupan manusia sebagai bentuk dan cara manusia berterima kasih kepada pencipta.
  • Ulama Akhlak HAsbi Ash- Shiddiqie >> Melaksanakan semua perintah Allah SWT. Dalam praktek ibadah jasmaniah dan rohaniah dengan berpegang teguh pada syariat islam yang benar.
  • Ulama Fiqih >> Ketaatan hamba Allah yang mukallaf yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharapkan pahala-Nya di akhirat.

Bentuk ibadah kepada Allah SWT ada 2 yaitu : ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah.

  • Ibadah Mahdhah >> Ibadah yang perintah dan larangannya sudah jelas secara dzahir dan tidak memerlukan penambahan atau pengurangan. contohnya : thaharoh, shalat, puasa, zakat, dan haji.
  • Ibadah ghairu mahdhah >> Ibadah yang cara pelaksanaannya dapat direkayasa oleh manusia, artinya bentuknya dapat beragam dan mengikutin situasi dan kondisi.

Dasar Fiqih Ibadah

Dasar ilmu Fiqih Ibadah adalah yakni al-Qur’an dan as-Sunnah al-Maqbulah. As-Sunnah Al-Maqbulah artinya sunnah yang dapat diterima. Dalam kajian hadis sunnah al-Maqbulah dibagi menjadi dua, Hadis Shahih dan Hadis Hasan. Hal ini disandarkan pada hadis berikut;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku meninggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak akan tersesat jika berpegang pada keduanya, yakni: Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunah Nabi.

Prinsip Fiqih Ibadah ada 3 yaitu : Muraqabah, Ikhlas, dan Disiplin waktu.

  • Muraqabah >> Seseorang beribadah seakan-akan Alaah SWT mengawasinya. Dia yakin bahwa Allah SWT senantiasa bersamanya dalam aktivitas, gerak maupun diam.

 

  • Ikhlas (Al-Bayinah/98:5) >>

    وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

    Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

    Seseorang beribadah semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT. Tidak begitu memperdulikan harapan mendapatkan pahala maupun takut siksaan. Termasuk juga, mencegah diri dari riya’ , yaitu beramal agar mendapatkan perhatian dari manusia.

 

  • Disiplin Waktu >> Seseorang yang ingin mengerjakan ibadah harus sesuai dengan waktunya. Bahkan, yang lebih baik adalah bergegas di awal waktu. Misalnya, sudah masuk waktu shalat dzuhur, maka tundalah dulu perkerjaan yang sedang dilakukan.

Dalil tentang Fiqih Ibadah

  •  Dalil dalam Alquran
Allah SWT berfirman:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110).
Ibnu Katsir RA menjelaskan maksud ayat di atas dalam Tafsirnya, maksud dari kalimat “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh” adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).
Sementara pada kalimat “Janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya” maksudnya, yakni selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.
  • Dalil dalam hadis
Hadis pertama dari ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita).
Hadis kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.
Mungkin sampai disini dulu ya guys sampai ketemu kembaliiii see you…
Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

4 Comments

Leave a comment

X