Cermi Assignment 3 UR101 Agama Islam Rahmani Renifa Pasha

Halo guyss..

Kenalin, namaku Rahmani Renifa Pasha biasa dipanggil Rani, Chacha atau Rani Chacha 😀

Aku adalah salah satu mahasiswa di Universitas Raharja dari jurusan Bisnis Digital dengan NIM 2281475681.

Disini aku ingin berbagi cermi dari pertemuan Sharing SantAI #117 dengan tema Peran Fiqih dalam Ibadah yang dinarasumberi oleh pak Suiroj.

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hamba-Nya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima dan diridhoi Allah selain Islam.

Agama Islam selain agama yang diterima dan diridhoi Allah, agama Islam adalah agama yang Allah berikan berbagai kemudahan untuk kita sebagai umat-Nya beribadah. Ilmu yang mempelajari bagaimana cara kita beribadah adalah Fiqih Ibadah.

Apa itu Fiqih Ibadah?

Fiqih Ibadah adalah ilmu yang menjelaskan tentang dasar-dasar hukum-hukum islam, khususnya dalam ibadah seperti Shalat, Zakat, Haji, Qurban, Thaharah dll-Nya yang semua itu merupakan rasa syukur, dan ketaatan menjalankan perintah Allah SWT demi untuk mecapai ridho Allah SWT.

Apa itu Ibadah menurut Etimologi?

Ibadah menurut etimologi berasal dari kata bahasa Arab yaitu “abida-ya’budu-‘abdan-‘ibaadatan” yang berarti taat, tunduk, patuh dan merendahkan diri. Kesemua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. Seseorang yang tunduk, patuh dan merendahkan diri dihadapan yang disembah disebut “abid” (yang beribadah).

Bentuk ibadah kepada Allah SWT dibagi menjadi 2, yaitu :

Ibadah Mahdhah
Ibadah Mahdhah adalah aktivitas atau perbuatan yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya, Maksud dari syarat adalah hal-hal yang perlu dipenuhi sebelum suatu kegiatan ibadah itu dilakukan. Sedangkan rukun adalah hal-hal, cara, tahapan atau urutan yang harus dilakukan saat melaksanakan ibadah tersebut.

Contoh dari ibadah mahdhah adalah shalat. Shalat adalah ibadah mahdhah karena memang ada perintah (dalil) khusus dari syariat. Sehingga sejak awal mulanya, shalat adalah aktivitas yang diperintahkan (ciri yang pertama). Orang mengerjakan shalat, pastilah berharap pahala akhirat (ciri ke dua). Ciri ketiga, ibadah shalat tidaklah mungkin kita ketahui selain melalui jalur wahyu. Rincian berapa kali shalat, kapan saja, berapa raka’at, gerakan, bacaan, dan seterusnya, hanya bisa kita ketahui melalui penjelasan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hasil dari kreativitas dan olah pikiran kita sendiri.

Ibadah Ghairu Mahdhah
Ibadah Ghairu Mahdhah adalah ibadah yang tidak murni ibadah memiliki pengertian yang berkebalikan dari tiga ciri di atas.

Sehingga ibadah ghairu mahdhah dicirikan dengan :

– Pertama ibadah (perkataan atau perbuatan) tersebut pada asalnya bukanlah ibadah. Akan tetapi, berubah status menjadi ibadah karena melihat dan menimbang niat pelakunya.

– Kedua maksud pokok perbuatan tersebut adalah untuk memenuhi urusan atau kebutuhan yang bersifat duniawi, bukan untuk meraih pahala di akhirat.

– Ketiga amal perbuatan tersebut bisa diketahui dan dikenal meskipun tidak ada wahyu dari para rasul.

Contoh sederhana dari ibadah ghairu mahdhah adalah aktivitas makan. Makan pada asalnya bukanlah ibadah khusus. Orang bebas mau makan kapan saja, baik ketika lapar ataupun tidak lapar, dan dengan menu apa saja, kecuali yang Allah Ta’ala haramkan. Bisa jadi orang makan karena lapar, atau hanya sekedar ingin mencicipi makanan. Akan tetapi, aktivitas makan tersebut bisa berpahala ketika pelakunya meniatkan agar memiliki kekuatan (tidak lemas) untuk shalat atau berjalan menuju masjid. Ini adalah ciri pertama.

Dasar Fiqih Ibadah

Dasar ilmu Fiqih Ibadah adalah yakni al-Qur’an dan as-Sunnah al-Maqbulah. As-Sunnah Al-Maqbulah artinya sunnah yang dapat diterima. Dalam kajian hadis sunnah al-Maqbulah dibagi menjadi dua, Hadis Shahih dan Hadis Hasan. Hal ini disandarkan pada hadis berikut;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Aku meninggalkan untukmu dua perkara, kamu tidak akan tersesat jika berpegang pada keduanya, yakni: Kitab Allah (al-Qur’an) dan Sunah Nabi.

Prinsip Fiqih Ibadah :

Agar aktifitas fiqih ibadah dapat diterima disisi Allah SWT, ada sejumlah prinsip yang harus dipenuhi. Merujuk buku Modul Fiqih Ibadah oleh Rosidin, prinsip fiqih ibadah tersebut di antaranya :

Muraqabah
Muraqabah adalah seseorang beribadah seakan-akan Allah SWT mengawasinya. Dia yakin bahwa Allah SWT senantiasa bersamanya dalam setiap aktivitas, gerak maupun diam.

Ikhlas (Al-Bayinah/98:5)
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (ikhlas) ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

Makna dari ikhlas adalah seseorang beribadah semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT. Tidak begitu mempedulikan harapan mendapatkan pahala maupun takut siksa. Termasuk juga, mencegah diri dari riya, yaitu beramal agar mendapatkan perhatian dari manusia.

Disiplin Waktu
Hendaknya, seseorang yang ingin mengerjakan ibadah harus sesuai dengan waktunya. Bahkan, yang lebih baik adalah bergegas beribadah di awal waktu. Misalnya, sudah masuk waktu dzuhur, maka tundalah dahulu pekerjaan yang sedang dilakukan untuk melakukan shalat dzuhur.

Dalil Tentang Fiqih Ibadah

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَة رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110).

Ibnu Katsir RA menjelaskan maksud ayat di atas dalam Tafsirnya, maksud dari kalimat “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh” adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Sementara pada kalimat “Janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” maksudnya, yakni selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya.

Dalil dalam hadist

Hadist pertama dari ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (yaitu dunia dan wanita).”

Hadist kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”

Sekian cermi Sharing SantAI #117 yang telah dibuat ini. Terimakasih semua yang sudah membaca cermi ini.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

1 Comment

Leave a comment

X