CerMi – Assignment 4 – BD103W – PK2 Ganjil 22/23

Semagat Pagi!! ūüėĀ

Pada CerMi kali ini Ridwan akan membahas hasil Findout terkait dengan pemanfaatan Decentralized Storage, dan ada satu aplikasi yang membuat Ridwan tertarik untuk membahasnya yaitu Audius, karna akan di gadang-gadang oleh penggiat Blockchain akan menjadi saingan kuat beberapa platform besar untuk Music Content, wah kira kira apa yaa?  tapi sebelum ridwan masuk ke pembahasan utama, Ridwan akan membahas sedikit tentang apa itu Decentralized Storage supaya kita bisa menyamakan persepsi hehe ..

Decentralized Storage adalah penyimpanan yang decentral dan tidak di operasikan oleh satu perusahaan atau organisasi sistem penyimpanan terdesentralisasi terdiri dari jaringan pengguna-operator peer-to-peer yang menyimpan sebagian dari keseluruhan data, menciptakan sistem berbagi penyimpanan file yang aman dan tidak mudah di retas. Ini bisa dalam aplikasi berbasis blockchain atau jaringan berbasis peer-to-peer.

sebelumnya Ridwan juga sudah membuat rangkuman dari Sharing Santai #74 Tentang Decentralized Storage, saat ini yang akan menjadi pokok pembahasan Ridwan tentang pemanfaatan Decentralized Storage yaitu Audius. Audius sendiri Didirikan pada tahun 2018 oleh Roneil Rumburg, Audius adalah layanan streaming musik gratis yang terdesentralisasi. Layanan streaming musik ini memungkinkan artis untuk mengunggah lagu mereka ke aplikasi dan berinteraksi dengan para penggemarnya dengan cara yang unik. Audius juga memungkinkan setiap artis atau pembuat musik memperoleh bayaran atas karya yang mereka buat.

Audius diamankan oleh sebuah jaringan operator node yang terdesentralisasi. Mulanya, Audius dibangun di jaringan PoA, sidechain Ethereum dan kemudian memindahkannya sebagian layanannya ke blockchain Solana.

Decrypt melaporkan bahwa pada tahun 2018 platform streaming musik ini telah menerima modal investasi dari VC General Catalyst, Lightspeed, dan Pantera Capital senilai 5 juta dolar AS atau setara Rp71 miliar. Selain itu, Audius juga mendapatkan pendanaan dari Binance Labs sebersat 1,25 juta dolar AS atau setara Rp17 miliar.

Cara Kerja Audius

Karena Audius didasarkan pada blockchain, layanan ini beroperasi melalui sebuah jaringan node terdesentralisasi yang menampung konten node dan mengindeks konten itu (discovery node). Jaringan pada Audius didukung oleh token ERC-20 Audius (AUDIO) berbasis Ethereum, yang melayani tiga fungsi:

  1. Keamanan jaringan. Operator node akan staking token untuk nantinya dapat menjalankan node. Oleh karena itu, nantinya operator akan memperoleh sejumlah imbalan dari jaringan.
  2. Fitur eksklusif. Seniman dan artis akan mendapatkan fitur premium dengan cara mempertahankan token, seperti menampilkan koleksi kripto NFT di situs.
  3. Tata kelola. Token yang di-staking diperlukan untuk memberikan vote pada setiap dan seluruh proposal, yang bisa membuat adanya perubahan pada kode serta jaringan secara keseluruhan.

Bagi mereka yang baru masuk di dunia crypto dan belum memiliki pengetahuan yang mendalam tidak perlu khawatir. Pasalnya, dalam layanan ini tidak diperlukan pengetahuan mengenai blockchain atau crypto secara mendalam untuk nantinya dapat berpartisipasi dalam Audius.

Selain itu, platform juga akan secara otomatis menghargai seluruh pencapaian yang ada dengan token AUDIO, melalui 5 trek trending mingguan teratas, 5 trek trending teratas, 5 daftar playlist trending teratas, 10 aplikasi API teratas, dan lain-lainnya.

Sering kali, platform ini kerap mengirimkan sejumlah token AUDIO, berdasarkan formula yang memperhitungkan tidak hanya jumlah pendengar tetapi juga tingkat social engagement yang telah ditampilkan oleh para artis.

Decrypt juga melaporkan bahwa pada bulan Oktober 2021, layanan streaming musik ini telah mendistribusikan 50 juta token AUDIO kepada 10 ribu artis dan pengguna di platform. Dilansir dari CoinMarketCap, harga token Audius (AUDIO) saat artikel ditulis adalah Rp32.887,-. Sementara untuk kapitalisasi pasarnya, aset kripto Audius satu ini tercatat senilai Rp13,3 triliun. Source Content

Terlepas dari penjelasan di atas, Audius bertujuan untuk lebih menghargai musisi karena platform seperti Soundcl**d Spo**ify (bukan bermaksud menjelekan) pembagian rewardnya kurang adil untuk musisi karena tidak sepenuhnya untuk musisi tesebut, karena datanya di simpan secara peribadi di platform tersebut jadi jika ada keuntungan tidak di bagi oleh musisi nya secara adil. jadi jika ada yang melakukan donasi atau berlangganan sebagian besar akan masuk ke musisi, dan sisanya adalah biaya transaksi pada platform Audius, beda dengan platform yang tadi ridwan sebutkan di atas biasanya mengambil keuntungan yang lebih besar, Audius tidak menyediakan penyimpanan data, jadi hanya pure menyediakan jasa validasi menggunakan blockchain dan dari situ Audius mendapatkan keuntungan.

Bagi rekan – rekan yang punya masukan atau insight terkait dengan pemanfaatan Decentralized Storage boleh ketikan di kolom komentar supaya makin banyak lagi yang kita ketahui tentang pemanfaatan Decentralized Storage, Thankyou!!!

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

3 Comments

Leave a comment

X