Cermi3-EpsaPK2-UR101W Agama

Sharing Sant🅰🚀 #117

Rabu, 28 September 2022.

Assalamualaikum gays, holla! Pagi ini Aku dengan teman BisDi UR lainnya mengikuti kegiatan sharing santay dengan tema Peran Fiqih dalam Ibadah. Sharing santay kali ini dinarasumberi oleh Bapak Siroj.

Diawali dengan menjelaskan apa itu ibadah fiqih. Ibadah itu berasal dari bahasa Arab ‘Ibadat’ yang memiliki arti pengabdian, penghambaan, ketundukan, dan kepatuhan. Dari akar kata yang sama yaitu ‘abd’ (hamba, budak) yang menghimpun makna kekurangan, kehinaan, dan kerendahan. Pengertian atau makna ibadah itu sebenarnya sangat luas. Secara istilah ibadah yaitu perbuatan yang dilakukan sebagai usaha menghubungkan diri kepada Allah SWT. sebagai Tuhan yang disembah.

Selanjutnya yaitu menjelaskan Ibadah Menurut Para Ulama yang dibagi menjadi 3, diantaranya :

1. Ulama Tauhid

Ibadah itu dapat diartikan sebagai tujuan kehidupan manusia sebagai bentuk dan cara berterima kasih kepada sang pencipta yaitu Allah SWT.

2. Ulama Akhlak Hasbi Ash-Shiddiqie

Ibadah itu melaksanakan semua perintah Allah SWT. dalam praktek ibadah jasmaniah dan rohaniah dengan berpegang teguh pada syariat Islam yang benar.

3. Ulama Fiqih

Ibadah dapat diartikan ketaatan hamba Allah yang mukallaf  yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat.

  • Istilah mukallaf yaitu seseorang yang telah memenuhi beberapa kriteria untuk menyandang kewajiban dari Allah sebagai konsekwensi dari beban taklif-nya. Untuk dianggap sebagai mukallaf, syaratnya ada dua yaitu berakal (bukan gila) dan sudah baligh.
  • Makna “Islam Rahmatan lil ‘Alamin” adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam semesta.

Selanjutnya mengenai Bentuk Ibadah kepada Allah SWT. yang terbagi menjadi 2 sebagai berikut :

1. Ibadah Mahdhah

Ibadah yang perintah dan larangannya sudah jelas secara dzahir dan tidak memerlukan penambahan atau pengurangan. Contohnya thoharoh, shalat, puasa, zakat.

2. Ibadah Gairu Mahdhah

Ibadah yang cara pelaksanaanya dapat direkayasa oleh manusia, artinya bentuknya dapat beragam dan mengikuti situasi dan kondisi. Contohnya ibadah haji dan umrah.

  • Thaharah menurut syari’at Islam ialah suatu kegiatan bersuci dari hadas maupun najis sehingga seorang diperbolehkan untuk mengerjakan suatu ibadah yang dituntut harus dalam keadaan suci seperti shalat. Pembagian thaharah ada dua, yakni bersuci dari hadats berupa melakukan wudhu, mandi (mandi wajib, mandi janabat), dan tayamum. Kemudian, bersuci dari najis berupa menghilangkan najis yang ada di badan, tempat dan pakaian.
  • Dalam ilmu fiqih, istinja adalah membersihkan sesuatu (najis) yang keluar dari qubul atau dubur menggunakan air atau batu dan benda sejenisnya yang bersih dan suci. Dalam istinja, orang boleh memilih tiga cara yaitu : (1) Istinja dengan batu terlebih dahulu lalu dengan air, dan ini cara terbaik. (2) Istinja dengan air saja. (3) Istinja dengan batu saja.
  • Pendapat ulama yang mengatakan boleh mengahajikan orang lain dengan syarat bahwa orang tersebut telah meninggal dunia dan belum melakukan ibadah haji, atau karena sakit berat sehingga tidak memungkinkannya melakukan ibadah haji namun ia kuat secara finansial.
  1. Ulama Haanafi mengatakan orang yang sakit atau kondisi badannya tidak memungkinkan melaksanakan ibadah haji namun mempunyai harta atau biaya untuk haji, maka ia wajib membayar orang lain untuk menghajikannya, apalagi bila sakitnya kemungkinan susah disembuhkan maka ia wajib meninggalkan wasiat agar dihajikan.
  2. Mazhab Maliki mengatakan menghajikan orang yang masih hidup tidak diperbolehkan. Untuk yang telah meninggal sah menghajikannya asalkan ia telah mewasiatkan dengan syarat biaya haji tidak mencapai sepertiga dari harta yang ditinggalkan.
  3. Mazhab Syafi’i mengatakan boleh menghajikan orang lain dalam dua kondisi, yaitu untuk mereka yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji karena tua atau sakit.

Prinsip Fiqih Ibadah

Merujuk buku Modul Fiqih Ibadah oleh Rosidin, prinsip fiqih ibadah tersebuat diantaranya :

  1. Muraqabah, adalah seseorang beribadah seakan-akan Allah SWT mengawasinya. Dia yakin bahwa Allah SWT senantiasa bersamanya dalam setiap aktivitas, gerak maupun diam.
  2. Ikhlas, makna dari ikhlas ialah seseorang beribadah semata-mata karena mengharapkan ridha Allah SWT. Tidak begitu memperdulikan harapan mendapatkan pahala maupun takut siksa. Termasuk juga, mencegah diri dari riya’, yaitu beramal agar mendapatkan perhatian dari manusia.
  3. Disiplin waktu, hendaknya seseorang yang ingin mengejarkan ibadah harus sesuai dengan waktunya. Bahkan yang lebih baik adalah bergegas beribadah di awal waktu.
  • Bagaimana menentukan shalat saat melintasi daerah beda zona waktu?

Menurut paparan dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

Yang terpenting yaitu kita pegang prinsip bahwa dimana pun kita berada dan masuk waktu shalat, maka kita wajib mengerjakan shalat. Termasuk apabila kita sedang berada di atas pesawat.

Waktu shalat di atas pesawat international memang agak rancu. Mengingat kita tidak tahu di atas kota apa kita saat ini sedang terbang. Bahkan mungkin malah bukan di atas kota, tetapi di atas laut, hutan, pegunungan, padang pasir dan sejenisnya, dimana memang tidak pernah dibuatkan jadwal waktu shalatnya.

Jadi kalau pun kita tahu kita berada di atas titik koordinat tertentu, masih ada masalah besar yaitu tidak ada jadwal shalat untuk titik koordinat tersebut. Jadwal shalat kita di atas pesawat terbang itu akan menjadi nisbi, dalam arti tidak menganut jadwal shalat negeri manapun. Lalu bagaimana cara kita menetapkan waktu shalatnya?

1. Gunakan Fasilitas Jama’

Pada saat kita menumpang pesawat antar negara, sudah bisa dipastikan kita mendapat fasilitas untuk menjama’ shalat. Oleh karena itu silahkan manfaatkan fasilitas yang sudah tersedia. Hukum menjama’ ini berkisar pada tiga hukum, yaitu ada yang bilang mubah, sunnah bahkan ada juga yang bilang wajib.

Memanfaatkan fasilitas jama’ ini akan mengurangi frekuensi shalat kita, sehingga tidak perlu shalat lima kali tetapi cukup tiga kali saja, yaitu Dzhur-Ashar, Maghrib-Isya’ dan Shubuh. Dzhuhur dan Ashar boleh dijama’ taqdim dan boleh dijama’ ta’khir. Demikian juga dengan Maghrib dan Isya’, keduanya boleh dijama’ taqdim atau ta’khir. Kita bebas memilik sesuai dengan kondisi yang lebih memungkinkan.

2. Menentukan Waktu Shalat Dzhuhur dan Ashar

Untuk shalat Dzhuhur dan Ashar yang memang boleh dijama’ kita bisa melihat ke luar jendela. Selama matahari sudah lewat dari atas kepala kita dan belum tenggelam di ufuk barat, kita masih bisa menjama’ kedua shalat itu. Untuk yakinnya, mari kita jama’ ta’khir saja. Kenapa?  Karena jama’ ta’khir itu kita lakukan di waktu Ashar dan waktu Ashar bisa kita kenali dengan melihat ke luar jendela pesawat. Selama matahari sudah condong ke arah Barat namun belum tenggelam, maka itulah waktu Ashar.

3. Menentukan Waktu Shalat Maghrib dan Isya’

Untuk shalat Maghrib dan Isya, agar kita tidak terlalu ragu, sebaiknya kita shalat jama’ ta’khir di waktu isya. Jadi setelah kita menyaksikan matahari betul-betul tenggelam di ufuk barat, kita tunggu kira-kira 1-2 jam. Saat itu kita amat yakin bahwa waktu Isya sudah masuk. Maka kita shalat Maghrib dan Isya’ dengan dijama’ di waktu Isya’.

4. Menentukan Waktu Shalat Shubuh

Shalat shubuh itu waktunya sejak terbit fajar hingga matahari terbit. Dan kalau kita berada di angkasa, mudah sekali mengenalinya. Cukup kita menengok keluar jendela, ketika gelap malam mulai hilang dan langit menunjukkan tanda-tanda terang namun matahari belum terbit, maka itulah waktu shubuh. Shalatlah shubuh pada waktu itu dan jangan sampai terlanjur matahari menampakkan diri.

Yang terakhir yaitu menjelaskan mengenai Dalil tentang Fiqih Ibadah menurut Buku Fiqih Ibadah karya Zaenal Abidin.

  1. QS. Al-Kahfi : 110
  2. Hadis dari Umar Bin Al-Khottob dan dari Ummul Mukminin.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil pada sharing santay kali ini yaitu beribadahlah dengan niat yang ikhlas, dengan tujuan supaya Allah memberi syafa’at atas ibadah yang kita lakukan. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Sekian cermi sharing sant🅰🚀 kali ini, Wassalamualikum teman-teman.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

7 Comments

  • viktorasin

    September 28, 2022 - 1:13 pm

    Epsa.. Mantap paparannya.. Sambil belajar.. menulis dan merefresh pengetahuan tentang agama..

    • Epsa

      September 28, 2022 - 1:22 pm

      Terima kasiihhh, mantap jugaa pa viktor 😊

  • RKurniaji95

    September 28, 2022 - 1:15 pm

    Alhamdulillah menjadi reminder untuk Ridwan tentang pembagian waktu sholat 5 waktu dan penjelasan tentang men jama’ sholat wajib dalam kondisi perjalanan jauh, 🙏

    • Epsa

      September 28, 2022 - 1:23 pm

      Alhamdulillah sambil search ilmuu baru jugaa pa😊

  • Assignment 3 - EpsaPK2 - UR101W Agama - Gamichain

    September 28, 2022 - 1:26 pm

    […] Cermi3-EpsaPK2-UR101W Agama […]

  • ikhsar fikram ariyanto

    September 28, 2022 - 1:32 pm

    Kelazzzz bre🤩

Leave a comment

X