UR101 – Assignment 8 – Jihan Zanubiya – 2281476541

Pertanyaan

  1. Jelaskan definisi Salam!

  2. Sebutkan dalil yang menjelaskan tentang hukum Salam!

  3. Sebutkan dan jelaskan lima rukun Salam!

  4. Sebutkan Syarat-syarat Salam!

  5. Bagaimana akad salam seharusnya dilakukan?

Status :

100 % Tercapai

Keterangan :

Saya sudah mengerjakan assignment ini dengan baik dan benar

Bukti :

1. Jelaskan definisi Salam!

Salam, secara bahasa berarti: isti’jal atau istiqdam, memajukan.

Salam secara istilah berarti: menjual sesuatu yang diterangkan sifatnya (maw-shuf) dalam suatu tanggungan/jaminan (dzimmah).

Contoh: pembeli menyerahkan pembayaran di muka, lalu bersepakat dengan penjual bahwa barang yang telah dibayar akan diserahkan minggu depan.

Menurut Bahasa juga bisa diartikan sebagai : menyegarkan dan mendahulukan uang pembayaran (modal) atau juga bisa disebut ”salaf

 

2. Sebutkan dalil yang menjelaskan tentang hukum Salam!

Dalil yang memperboleh kan salam ialah Al-Quran, Sunnah, dan Ijma’

Dalil
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan bahwa ayat ini turun tentang jual beli salam.

Hadits
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu mengatakan :
“Aku bersaksi bahwa salaf (transaksi salam) yang dijamin hingga waktu yang ditentukan telah dihalalkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah telah mengizinkannya”. Setelah itu Ibnu ‘Abbas menyebutkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282) (HR. Al-Baihaqi, 6:18, Al-Hakim, 2:286 dan Asy-Syafi’i dalam musnadnya no. 597. Al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, tetapi keduanya tidak mengeluarkannya)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu juga mengatakan :
“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) mempraktikkan jual beli buah-buahan dengan sistem salaf (salam), yaitu membayar di muka dan diterima barangnya setelah kurun waktu dua atau tiga tahun kemudian. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mempraktikkan salam dalam jual beli buah-buahan, hendaklah dilakukannya dengan takaran yang diketahui dan timbangan yang diketahui, serta sampai waktu yang diketahui.” (HR. Bukhari, no. 2240 dan Muslim, no. 1604)

Ijma’
Ibnul Mundzir. Beliau rahimahullah mengatakan,
“Setiap ulama yang kami mengetahui perkataannya telah bersepakat (berijmak) tentang bolehnya jual beli salam.”

 

3. Sebutkan dan jelaskan lima rukun Salam!

  • Muslim, yaitu pembeli (al-musytari), disebut pula dengan robbussalam.
  • Muslam ilaih (penjual).
  • Muslam fiih, yaitu barang yang dijual.
  • Ro’sul maal, yaitu harga atau upah.
  • Shighah, yaitu ijab dan qabul.

Sumbernya jian ambil dari https://rumaysho.com/33794-matan-taqrib-akad-salam-dalam-transaksi-jual-beli.html

 

4. Sebutkan Syarat-syarat Salam!

Syarat Akad Salam Terkait Muslam Fiih (Barang)

  1. Barang yang diserahkan oleh penjual itu jelas sifatnya, seperti barangnya ditentukan jenisnya dari sutra, kapas, besi, dan semacamnya.
  2. Barang tersebut masih sejenis dan tidak bercampur dengan selainnya. Namun, masih boleh jenisnya bercampur dengan yang lain jika memang bisa jelas komposisinya.
  3. Barang tersebut tidak dimasak dengan api karena menjadi sesuatu yang tidak jelas. Namun, jika adanya api itu bisa membedakan antara minyak samin dan susun dengan adanya api, maka tidaklah masalah. Begitu pula untuk membedakan lebah madu dan lilin dengan api yang redup.
  4. Barang tersebut bukan barang yang mu’ayyan (telah ditentukan dengan pasti). Berarti barangnya adalah sesuatu yang tertunda. Jika akadnya, “Saya serahkan kepadamu seratus ribu rupiah untuk cincin ini, tidakalh sah. Ini tidaklah dianggap bai’ (jual beli) dalam pendapat azhar (yang lebih kuat).”
  5. Barang tersebut juga bukan barang dari tempat mua’ayyan (dibatasi tempat tertentu).

 

Syarat Sahnya Akad Muslam Fiih

  1. Menunjukkan jenis dan macam barang yang dipesan sehingga dapat dibedakan harga barang-barang yang dipesan, seperti menentukan jenis hewan jantan atau betina, supaya menghindarkan dari gharar.
  2. Menyebutkan kadar (ukurannya) dengan penjelasan yang dapat menghilangkan ketidaktahuan mengenainya, seperti menentukan ukuran timbangan atau takaran.
  3. Jika pembayarannya ditangguhkan (diutang), harus disebutkan kapan barang tersebut akan diterima (diserahkan) kepada pemesan, seperti menentukan waktunya dalam sehari, sebulan, atau setahun barang itu akan diserahterimakan.
  4. Barang yang dipesan itu harus tersedia pada waktu pengambilannya. Misalnya, kurma ruthob (fresh, baru panen) akan berbuah pada musim panas, lalu janjinya kurma akan diserahkan pada musim dingin. Maka seperti ini tidaklah sah karena kurma ruthob tersebut tidak bisa diserahterimakan.
  5. Disebutkan tempat pengambilannya.
  6. Harganya jelas. Artinya, ra’sul maal (uang) dalam akad salam harus haalan (diserahkan di muka) dan jelas. Jika tidak, maka yang terjadi adalah bai’ dayn bi dayn, jual beli utang dan utang. Ini tidaklah sah.
  7. Pemesan harus sudah membayar ra’sul maal (uang) sebelum keduanya berpisah.
  8. Akad salam harus selesai (naajizan) dan tidak boleh dimasuki khiyar syarat (janji persyaratan). Karena jika tertunda, maka terjadi gharar dan khiyar itu menghalangi kepemilikan.

Sumbernya Jian ambil dari https://rumaysho.com/33794-matan-taqrib-akad-salam-dalam-transaksi-jual-beli.html

 

5.Bagaimana akad salam seharusnya dilakukan?

1. penjual menunjukan berbagai macam barang yang signifikan kepada pembeli setelah itu,
2. pembeli menentukan barang dengan harga yang sudah disepakati,
3. penjual mengambil barang yang dinginkan oleh pembeli jika barangnya tidak sesuai pembeli boleh membatalkan transaksi nya.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment

X